Pages

Jumat, 18 November 2011

Jakarta Tempo dulu


Salam hangat pembaca!

Weekend ini saya punya waktu untuk ngebolang di daerah Jakarta dan sekitarnya. Berhubung akses rumah saya dilalui oleh jalur busway jadi dipilihlah Transjakarta sebagai teman bolang saya (ongkos murah hehe ). Jalan-jalan di daerah kota tua membuat saya membayangkan jaman Batavia tempo dulu seperti apa ya suasana dan megahnya. Sebagai gadis keturunan Betawi, saya harus tau dong sejarah tempat kelahiran saya ini ^^ .

Betawi  sebagai queen of east sekarang tinggal kenangan  walaupun sisa-sisanya masih bisa kita telusuri dan ditemui dibeberapa lokasi namun kehidupan serta kebiasaan orang Betawi asli yang kebanyakan sudah pada uzur. Nah, kita sebagai generasi muda yang belum sempat ikut merebut dan menegakkan kemerdekaan, sekarang punya job untuk membangun Jakarta lebih indah dan lebih sejahtera dari pada Batavia waktu dulu. Buat ceman-ceman yang suka cerita sejarah, saya  punya sedikit info sejarah tentang  Jakarta tempo dulu. Oke laah ceman-ceman yuk mari !

Queen Of the East

Terusan Suez pada November 1867 dibuka. Yang berarti hubungan laut antara Benua Asia dan Eropa jaraknya semakin pendek. Kalo semula pelayaran dari Eropa ke Batavia memerlukan waktu sekitar enam bulan dengan risiko perompakan dan penyakit, kini dapat ditempuh dalam waktu sebulan. Sejak saat itu, makin banyak orang Eropa khususnya Belanda datang ke Batavia. Sayangnya, kesempatan emas ini tidak di dukung oleh kondisi pelabuhan Sunda Kelapa di Pasar Ikan. Akibatnya kapal samudera yang berdatangan dari mancanegara tidak dapat merapat karena digenangi lumpur. Pemindahan penumpang dan barang-barang dari kapal ke perahu-perahu saat bongkat muat ke darat dan dari darat ke kapal sangat menghambat. Guna memperlancar ekonomi dan perdagangan diperlukan pelabuhan baru yang modern. 

Setelah melakukan survey yang cukup matang, akhirnya dipilihlah Tanjung Priok yang jaraknya sekitar 8 km dari Pasar Ikan. Bersamaan dengan itu, di bangun pula jaringan kereta api antara Batavia dan Buitenzorg (Bogor). Berturut-turut jaringan KA semakin bertambah, baik didalam kota maupun disekitarnya. Trem uap mulai dipergunakan pada 1881. Dan 16 tahun kemudia (1897) digantikan trem listrik. Dengan demikian, berkembanglah lalu lintas yang sudah dirintis oleh Gubernur Jenderal Gustaf Herman Willem Daendles, dilengkapi dengn telegraf dan telepon. Daendles juga membangun kawasan baru di selatan kota lama yang disebut Welrevreden (daerah lebih nyaman). Pemindahan ini karena kota lama menjadi sarang penyakit yang menakutkan bagi warga Belanda.

Sejak masa pemerintahan Raffles (1812), saat Batavia selama 5 tahun dikuasai Inggris, sistem pembagian wilayah kota dan daerah Ommelanden (luar kota), ditetapkan dalam kesatuan wijk atau kelurahan saat ini. Masa jabatan wijkmeester (lurah) ditetapkan satu tahun. yang terpilih sebagai kepala wijk adalah mereka yang paling terkenal dan dihormati dikampungnya.

Waktu itu Batavia-Wetevreden sedang dipromosikan dengan sebutan yang menarik : Queen of East (Ratu dari timur). Boleh dikata dalam abad ke-19 Batavia mengalami transfusi yang cukup besar dari para pendatang Eropa. Serdadu dan pedagang dari abad ke-19 ini jauh berbeda dai rekan-rekan mereka di abad ke -17. Mereka lebih santun dan terhormat, ketimbang serdadu dan petani yang didatangkan JP Coen dua abad sebelumnya. Di sekitar Weltevreden muncul pemukiman-pemukiman baru seperti Tanah Abang, Godangdia, Meester Cornelis (jatinegara), dan menteng. Pada awal abad ke-20 Batavia mencapai kekayaan yang melimpah.

Ratu dari timur itu tinggal kenangan

Gedung dan tempat yang pernah mengisi lembaran sejarah ibukota kini sudah tiada termasuk gedung-gedung yang dibangun abad ke-17 dan ke-18 hingga Batavia mendapat julukan sebagai kota Ratu dari Timur. Agar jangan sampai sisa-sisa peninggalan sejarah yang masih ada turut punah, Gubernur DKI Soerjadi Sudirja dalam upaya menggalakkan pariwisata di DKI pada tahun1993 telah melestarikan 224 bangunan tua sebagai Cagar Budaya Betawi. Dengan SK tersebut Gubernur melarang untuk mengubah bentuk apalagi membongkarnya. Seperti di Museum Bahari di Sunda Kelapa. Dengan semangat melestarikan tempat bersejarah ini, terpancang tulisan gagah dengan huruf-huruf besar :”Kita tanpa bangunan tua ibarat manusia tanpa ingatan”. Di museum yang pada masa VOC merupakan gudang, yang masih tampak kemegahannya, tidak lagi tercium bau aroma cengkih, biji pala dan berbagai rempah lainnyayang saat itu di simpan dan kemudian di angkut ke manca negara.

Tak berjauhan dari gudang VOC yang ketika itu tepat berada di tepi pantai, kini sudah menjauh sekitar 20 meter, terdapat Benteng (kastil) Batavia, yang hampir tidak berberkas. Hanya dengan bersusah payah, melewati tangga dari papan yang dibuat penduduk setempat, sebagaimana yang dilakukan wisatawan asing, baru dapat menjumpainya sedikit. Di dekat benteng ini, di sekitar Jalan Tongkol dan kakap dahulu terdapat sebuah Pintu Gerbang Amsterdam, untuk memeriksa orang yang keluar masuk kastil. Menyusuri daerah kota dari pasar ikan, jalan falatehan 1, berdiri gedung Staadhuis atau balai kota yang tampak megah, yang dulu menjadi tempat eksekusi bukan hanya bagi para bandit, perampok dan penjahat, tapi juga pejuang-pejuang kemerdekaan.

Diseberang kanannya terdapat sebuah gereja tempat masyarakat Belanda kala itu melakukan kegiatan keagamaan. Gereja ini pernah diperbaharui, ketika mendapat gempuran dan dibakar oleh pasukan mataram ketika menyerang Batavia.
Tempat konsentrasi pertahanan pasukan mataram kini menjadi Jalan Mataram di Jakarta Timur, yang ketika itu hutan belukardan rawa-rawa. Kata Mataraman oleh orang betawi di sebut Matraman.Gubernur Jenderal JP Coen dikabarkan dimakamkan di halaman gereja ini.
Dulu kota Batavia dibelah menjadi dua bagian, dikiri dan kanan Sungai Ciliwung yang mampu dilewati 30 buah perahu yang membawa berbagai keperluan sehari-hari dari “luar kota”. Disebelah timur (Kalibesar Timur) tempat pemukiman orang belanda dengan gedung bergaya Eropa, sebelah barat (Kalibesar Barat)orang cina dengan bangunan bergaya negeri leluhurnya. Perluasan kota di bagian barat dilakukan dengan menggali parit-parit. Daerah pemukiman cina di pecinan Glodok ketika itu disebut zuider voorstad (pemukiman luar tembok selatan). 

oke itu dulu info nya yaa 
thx

0 komentar:

Posting Komentar